Perbedaan Antara Transportasi Swedia dan Indonesia

Transportasi umum atau juga transportasi massal, seperti halnya bus, digadang-gadang sebagai salah satu transportasi yang dimana juga menjadi salah satu solusi terbaik yang dimana biasanya akan digunakan oleh pemerintah untuk mengurangi sebuah kemacetan dan juga sebagai salah satu cara untuk dapat mengurangi sebuah beban polusi udara  yang biasanya akan terjadi di daerah perkotaan. Selain hal tersebut dimana beberapa di antaranya yang juga menjadi salah satu cara dan hal yang dimana di gunakan untuk dapat membantu program pemerintah, naik transportasi umum yang dimana menjadi salah satu yang tentunya akan bisa membuat anda dapat menghemat ongkos nantinya lho.

Perbedaan Antara Transportasi Swedia dan Indonesia

Moda angkutan yang ada di Indonesia tentunya menjadi salah satu hal yang juga sangat beragam, mulai dari bus yang besar, metro mini, hingga juga beberapa minibus. Ketiga dimana bekerja beriringan dimana menjadi salah satu cara yang yang dapat digunakan untuk bisa menghubungkan sebuah jalur yang ada dari pusat kota hingga juga ke pelosok desa. Senada halnya juga dengan Indonesia, Swedia sendiri yang dimana juga menjadi salah satu negara yang menjadikan transportasi sebagai salah satu hal yang umumnya untuk mengatasi sebuah  kepadatan yang ada di jalan raya.

Bus, tram, dan juga kereta bawah tanah, semua transportasi tersebut dimana semuanya menjadi saling berintegrasi dengan sedemikian rupa untuk  dapat memudahkan masyarakat yang dimana nantinya akan berpindah tempat. Transportasi  yang dimana umum menjadi salah satu hal yang dimana di gunakan untuk menjadi sebuah pilihan favorit dibandingkan  dengan menggunakan sebuah kendaraan pribadi. Pajak dari kendaraan yang  dimana dikenal sangat tinggi, serta  dimana sulitnya menemukan sebuah lahan parkir  dimana hal tersebut tentunya akan membuat orang yang nantinya akan berpikir dua kali untuk dapat membeli sebuah mobil. 

Sadar akan sebuah hal tersebut, dimana juga diketahui jika pemerintah yang dimana juga menjadi salah satu yang berusaha untuk dapat memberikan sebuah moda transportasi yang  dimana mudah  untuk dapat diakses, aman, nyaman, serta juga yang ramah lingkungan. Jaringan trem yang dimana ada di kota Gothenburg misalnya, menjadi salah yang merupakan jaringan terluar yang ada di-Eropa utara dengan panjang jalur trem sendiri yang mencapai 80 km. Tak heran jika Swedia sendiri  menjadi salah satu negara dengan pioner dalam hal transportasi publik. Namun pernahkan anda membandingkan dengan Indonesia? Apakah Indonesia dalam hal ini tertinggal jauh? Nah, simak beberapa fakta menariknya berikut ini. 

Kendaraan

Di Swedia, semua bus yang dimana memiliki  sebuah bentuk yang dimana semuanya yang hampir sama. Pintu dan juga jendela yang dimana  lebar berlapis dengan menggunakan sebuah kaca tertutup. Tujuannya adalah dimana  agar penumpang nantinya akan  aman di dalam tetapi mudah keluar apabila nantinya jika terjadi sebuah kecelakaan. Umumnya  dimana satu bus yang biasanya akan memiliki 3 pintu masuk. Pintu  yang ada di depan, yang dimana biasanya akan langsung terhubung dengan seorang supir, untuk dapat memudahkan penumpang yang dimana biasanya  ingin bertanya. 

Pintu tengah, yang biasanya dengan ukuran lebih lebar, hal ini sendiri digunakan untuk memudahkan penumpang yang dimana biasanya dengan stroller maupun  juga dengan menggunakan kursi roda. Dan pintu belakang, untuk  dapat memudahkan akses penumpang yang dimana  apabila dua pintu sebelumnya  yang memang terlalu penuh. Pintu-pintu tersebut  yang dimana hanya akan terbuka yaitu selama 10 detik lalu dimana nantinya pintu-pintu tersebut yang juga akan menutup otomatis. 

Namun tentunya hal ini yang perlu digaris bawahi yaitu adalah, bus  yang dimana tidak akan jalan apabila nantinya pintu belum tertutup sempurna. Padahal ternyata ada banyak faktor yang juga biasa  menyebabkan pintu yang dimana tidak menutup secara otomatis, seperti  halnya ada orang berdiri yang terlalu dekat dengan pintu,  atau yang berdiri dekat tombol berhenti yang  dimana dirinya tidak sengaja tertekan, atau dimana jumlah penumpang yang ada di dalam terlalu banyak. Bisa anda kebanyakan tidak jika pada rush hour? Bus penuh, dan dimana semua penumpang yang buru-buru tapi ternyata bus tersebut tidak tertutup pintunya. 

Coba kita bandingkan  hal ini dengan bus di Indonesia, misalnya adalah kopaja. Kopaja sendiri yng dimana memiliki dua pintu yang semuanya bertangga. Tujuannya adalah dimana agar kita selalu memperhatikan setiap langkah kaki jika nantinya akan turun. Jika hal ini tidak di perhatikan pastinya akan jatuh, selin itu dimana pemilihan tangga yang berundak juga dapat memperbanyak variasi posisi berdiri penumpang ketika pada jam sinu tiba.  Mau di tangga teratas atau juga di tangga terbawah, dimana dalam hal ini asalkan kaki anda yang dimana masih menapak maka tentunya anda pastinya akan selamat. Karena pintu tersebut yang dimana  tak pernah tertutup. Selalu terbuka. Jadi pintu bukan sebuah halangan untuk terus berjalan. 

Tempat berhenti

Bus dan juga tram di Swedia sendiri yang dimana semuanya harus berhenti di halte, dan tidak bisa berhenti sembarangan. Padahal jika sudah masuk ke  dalam pinggiran kota, jarak antara satu halte yang ada dengan yang lain  yang dimana bisa dua kilometer. Bayangkan hal ini kalau tempat yang umumnya dituju tepat berada di tengah di antara kedua halte tersebut!

Sedangkan dimana kita di Indonesia, diuntungkan dengan bus yang dimana berhenti sesuka kita. Meskipun ketika kita meminta berhenti dengan jarak yang hanya beda 50 meter dari tempat  berhenti sebelumnya, kalau nantinya anda minta berhenti pasti bus  yang dimana langsung akan berhenti, tidak peduli di belakang macet atau ketika ada tanda dilarang berhenti. 

Tanda berhenti

Bus dan juga  tram yang terbaru yang dimana berada di Swedia sendiri yang dimana diketahui memiliki dari tombol stop yang dimana hal ini sendiri mudah diakses oleh para penumpangnya. Sedangkan  untuk versi tuanya yang dimana beberapa menggunakan kabel yang dimana akan terhubung dengan bel untuk dapat memberi tanda pada supir agar nantinya berhenti di halte yang  selanjutnya. Tentunya dimana sudah dijelaskan tadi berlaku bahwa bus yang dimana  hanya bisa berhenti di sebuah halte saja.

Tanda stop yang dimana hanya untuk dapat memberikan sebuah tanda ke supir bahwa  nantinya anda yang akan berhenti di halte berikutnya. Biasanya bus yang dimana nantinya juga akan berhenti di setiap halte ketika pada jam sibuk. Di luar  jam tersebut, jika tidak ada yang memencet tombol stop yang dimana dalam hal ini tentunya bisa dipastikan akan yang dimana nantinya juga akan kebablasan! Kalau sudah begitu dimana nantinya dalam hal ini anda harus turun di halte setelahnya,dan kemudian anda bisa  berganti jalur, dan juga menunggu bus sebaliknya. 

Itulah beberapa perbedaan antara transportasi yang ada di Eropa dan juga yang ada di Indonesia. Tentunya walaupun transportasi yang ada di Indonesia masih jauh dari kata canggih, namun transportasi tersebut dapat lebih efisien.